TEORI – TEORI BELAJAR
Perilaku menurut teori
behaviorisme ialah hal – hal yang berubah dan dapat diamati. Perilaku terbentuk
dengan adanya ikatan asosiatif antara stimulus dan respons (S-R). Manusia
berprilaku pada dasarnya mencari kesenangan yang sekaligus menghindari hal –
hal yang menyakitkan, dan perilaku pada dasarnya ditentukan oleh lingkungan
sesuai dengan pola stimulus respons yang terjadi.
Proses belajar terjadi dengan adanya 3
komponen pokok, yaitu stimulus, respons, dan akibat. Stimulus adalah sesuatu
yang datang dari lingkungan yang dapat membangkitkan respons individu. Respons
menimbulkan perilaku jawaban atas stimulus. Sedangkan akibat adalah sesuatu
yang terjadi setelah individu merespons baik yang bersifat positif maupun
negatif.
Teori belajar Humanisme
memandang bahwa perilaku manusia ditentukan oleh faktor internal dirinya dan
bukan oleh kondisi lingkungan ataupun pengetahuan. Menurut teori belajar
humanisme, aktualisasi diri merupakan puncak perkembangan individu. Kebermaknaan
perwujudan dirinya itu bahkan bukan saja dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi
juga oleh lingkungan sekitarnya. Teori belajar humanisme ini yakin bahwa
motivasi belajar harus datang dari dalam diri individu. Para teoriwan belajar
kognitif berpandangan bahwa proses belajar pada manusia melibatkan proses
pengenalan yang bersifat kognitif.
Menurut mereka, cara belajar orang dewasa berbeda dengan cara belajar anak.
Proses belajar orang dewasa melibatkan kemampuan kognitif yang lebih tinggi dibandingkan
dengan proses belajar anak.
Konsep ialah suatu abstraksi
yang mewakili suatu kelas objek – objek, kejadian – kejadian, kegiatan –
kegiatan atau hubungan – hubungan yang mempunyai atribut – atribut yang sama
(Croser, 1984). Flavell (1970) mengemukakan tujuh dimensi konsep yaitu (1)
atribut, (2) struktur, (3) keabstrakan, (4) keinklusifan, (5)
generalitas/keumumam, (6) ketepatan, dan (7) kekuatan atau power. Tingkatan –
tingkatan konsep terdiri atau (1) tingkat konkret, (2) tingkat identitas, (3)
tingkat klasifikatori, dan (4) tingkat formal.
Ausubel
mengklasifikasikan belajar ke dalam 2 dimensi. Dimensi pertama menyangkut cara
materi atau informasi diterima peserta didik dan dimensi kedua, menyangkut cara
bagaimana peserta didik dapat mengaitkan informasi atau materi pelajaran dengan
struktur kognitif yang telah ada. Jika peserta didik menghubungkan informasi
atau materi pelajaran baru dengan konsep – konsep atau hal lainnya yang telah
ada dalam struktur kognitifnya maka terjadilah yang disebut dengan belajar
bermakna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar