Jumat, 11 Januari 2013

TEORI – TEORI BELAJAR


TEORI – TEORI  BELAJAR   
         Perilaku menurut teori behaviorisme ialah hal – hal yang berubah dan dapat diamati. Perilaku terbentuk dengan adanya ikatan asosiatif antara stimulus dan respons (S-R). Manusia berprilaku pada dasarnya mencari kesenangan yang sekaligus menghindari hal – hal yang menyakitkan, dan perilaku pada dasarnya ditentukan oleh lingkungan sesuai dengan pola stimulus respons yang terjadi.
         Proses belajar terjadi dengan adanya 3 komponen pokok, yaitu stimulus, respons, dan akibat. Stimulus adalah sesuatu yang datang dari lingkungan yang dapat membangkitkan respons individu. Respons menimbulkan perilaku jawaban atas stimulus. Sedangkan akibat adalah sesuatu yang terjadi setelah individu merespons baik yang bersifat positif maupun negatif.
         Teori belajar Humanisme memandang bahwa perilaku manusia ditentukan oleh faktor internal dirinya dan bukan oleh kondisi lingkungan ataupun pengetahuan. Menurut teori belajar humanisme, aktualisasi diri merupakan puncak perkembangan individu. Kebermaknaan perwujudan dirinya itu bahkan bukan saja dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh lingkungan sekitarnya. Teori belajar humanisme ini yakin bahwa motivasi belajar harus datang dari dalam diri individu. Para teoriwan belajar kognitif berpandangan bahwa proses belajar pada manusia melibatkan proses pengenalan  yang bersifat kognitif. Menurut mereka, cara belajar orang dewasa berbeda dengan cara belajar anak. Proses belajar orang dewasa melibatkan kemampuan kognitif yang lebih tinggi dibandingkan dengan proses belajar anak.
         Konsep ialah suatu abstraksi yang mewakili suatu kelas objek – objek, kejadian – kejadian, kegiatan – kegiatan atau hubungan – hubungan yang mempunyai atribut – atribut yang sama (Croser, 1984). Flavell (1970) mengemukakan tujuh dimensi konsep yaitu (1) atribut, (2) struktur, (3) keabstrakan, (4) keinklusifan, (5) generalitas/keumumam, (6) ketepatan, dan (7) kekuatan atau power. Tingkatan – tingkatan konsep terdiri atau (1) tingkat konkret, (2) tingkat identitas, (3) tingkat klasifikatori, dan (4) tingkat formal.
         Ausubel mengklasifikasikan belajar ke dalam 2 dimensi. Dimensi pertama menyangkut cara materi atau informasi diterima peserta didik dan dimensi kedua, menyangkut cara bagaimana peserta didik dapat mengaitkan informasi atau materi pelajaran dengan struktur kognitif yang telah ada. Jika peserta didik menghubungkan informasi atau materi pelajaran baru dengan konsep – konsep atau hal lainnya yang telah ada dalam struktur kognitifnya maka terjadilah yang disebut dengan belajar bermakna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar