PENDEKATAN PEMBELAJARAN
HOLISTIK DAN KONSTRUKTIVISME
Peran guru dakam proses membelajarkan
siswa semakin penting karena di masa depan guru tidak lagi merupakan sumber
informasi atau penyampaian pengetahuan kepada siswa melainkan lebih merupakan
fasilitator yang mempermudah siswa belajar. Cara – cara mengajar konvensional,
sudah selayaknya untuk diperbarui dan dikembangkan. Di sinilah pentingnya
pemahaman guru terhadap berbagai pendekatan dalam pembelajaran.
Dalam pendekatan holistik atau
terpadu, suatu objek akan terlihat maknanya apabila diamati secara menyeluruh,
bukan terpisah – pisah. Pendekatan ini merupakan aplikasi teori dari psikologi
Gestalt. Dalam pendekatan pembelajaran, aplikasi teori Gestalt dapat dilihat,
seperti berikut.
1. Pengalaman insight.
2. Ppembelajaran yang
bermakna.
3. Prilaku bertujuan.
4. Prinsip ruang hidup.
5. Transfer dalam
pembelajaran.
Selanjutnya, untuk dapat memperlihatkan
proses belajar sebagai proses yang terpadu, ada 9 hal yang perlu diperhatikan.
Pertama, pembelajaran berfungsi secara penuh untuk membantu perkembangan
individu seutuhnya. Kedua, pembelajaran merupakan aktivitas belajar siswa untuk
memperoleh pengalaman yang menempatkan siswa sebagai pusat. Ketiga,
pembelajaran diarahkan untuk memberikan ruang gerak siswa secara aktif dan
intensif. Keempat, pembelajaran harus menjamin setiap siswa pada posisi yang
baik dalam suasana kebersamaan untuk menyelesaikan proses yang dihadapi.
Kelima, pembelajaran sebagai prosesterpadu mendorong siswa untuk terus –
menerus belajar. Keenam, belajar secara terpadu memberikan kemungkinan yang
luas agar siswa belajar dengan irama dan gayanya masing – masing, tentunya
dengan standard – standard yang ditetapkan sendiri – sendiri. Ketujuh,
pembelajaran secara terpadu dapat
berfungsi dan berperan secara efektif yang menciptakan lingkungan
belajar yang melihat berbagai aspek. Kedelapan, pembelajaran terpadu memungkinkan
agar pembelajaran bidang studi tidak harus secara terpisah. Kesembilan,
pembelajaran terpadu memungkinkan adanya hubungan antara sekolah dan keluarga.
Pada pendekatan konstruktivisme,
individu membentuk sendiri pengetahuan yang dipelajarinya. Menurut Von Glaserfeld,
pengetahuan bukanlah suatu barang yang dapat dipindahkan dari pikiran seseorang
yang sudah mempunyai pengetahuan (dalam hal ini adalah guru) kepada pikiran
orang yang belum memiliki pengetahuan itu (siswa). Siswalah yang
menginterprestasikan serta mengonstruksikan pemindahan pengetahuan tersebut
berdasarkan pengalaman yang mereka miliki masing – masing. Konstruktivisme
dibedakan atas 3 level yaitu: konstruktivisme radikal, realisme hipotesis, dan
konstrutivisme yang biasa (jika dikaitkan dengan hubungan antara dan
kenyataan). Selain itu, pandangan konstruktivisme juga menghendaki guru untuk
menerapkan pendekatan mengajar yang berpusat pada siswa (student – centered
approach). Beberapa hal yang diperlukan menyokong pendekatan berorientasi pada
anak/siswa. Pertama, orientasi mengajar tidak hanya untuk pencapaian prestasi
akademik. Kedua, topik – topik yang dipelajari dapat berdasarkan pengalaman
anak yang relevan. Ketiga, metodemengajar harus berorientasi pada anak dengan
sifat yang menyenangkan. Keempat, kesempatan anak untuk bermain dan bekerja
sama dengan orang lain mendapat prioritas. Kelima, bahan pembelajaran dapat
diambil dari bahan yang konkret. Keenam, penilaian tidak hanya terbatas pada
aspek kognitif semata. Ketujuh, keenam hal terdahulu membawa implikasi bagi
guru yang harus menampilkan diri sebagai guru dalam proses pembelajaran, dan
bukan hanya sekadar mentransformasikan pengetahuan kepada siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar