Jumat, 11 Januari 2013

PENDEKATAN PEMBELAJARAN HOLISTIK DAN KONSTRUKTIVISME


PENDEKATAN PEMBELAJARAN HOLISTIK DAN KONSTRUKTIVISME

         Peran guru dakam proses membelajarkan siswa semakin penting karena di masa depan guru tidak lagi merupakan sumber informasi atau penyampaian pengetahuan kepada siswa melainkan lebih merupakan fasilitator yang mempermudah siswa belajar. Cara – cara mengajar konvensional, sudah selayaknya untuk diperbarui dan dikembangkan. Di sinilah pentingnya pemahaman guru terhadap berbagai pendekatan dalam pembelajaran.
         Dalam pendekatan holistik atau terpadu, suatu objek akan terlihat maknanya apabila diamati secara menyeluruh, bukan terpisah – pisah. Pendekatan ini merupakan aplikasi teori dari psikologi Gestalt. Dalam pendekatan pembelajaran, aplikasi teori Gestalt dapat dilihat, seperti berikut.
1. Pengalaman  insight.
2. Ppembelajaran yang bermakna.
3. Prilaku bertujuan.
4. Prinsip ruang hidup.
5. Transfer dalam pembelajaran.
         Selanjutnya, untuk dapat memperlihatkan proses belajar sebagai proses yang terpadu, ada 9 hal yang perlu diperhatikan. Pertama, pembelajaran berfungsi secara penuh untuk membantu perkembangan individu seutuhnya. Kedua, pembelajaran merupakan aktivitas belajar siswa untuk memperoleh pengalaman yang menempatkan siswa sebagai pusat. Ketiga, pembelajaran diarahkan untuk memberikan ruang gerak siswa secara aktif dan intensif. Keempat, pembelajaran harus menjamin setiap siswa pada posisi yang baik dalam suasana kebersamaan untuk menyelesaikan proses yang dihadapi. Kelima, pembelajaran sebagai prosesterpadu mendorong siswa untuk terus – menerus belajar. Keenam, belajar secara terpadu memberikan kemungkinan yang luas agar siswa belajar dengan irama dan gayanya masing – masing, tentunya dengan standard – standard yang ditetapkan sendiri – sendiri. Ketujuh, pembelajaran secara terpadu dapat  berfungsi dan berperan secara efektif yang menciptakan lingkungan belajar yang melihat berbagai aspek. Kedelapan, pembelajaran terpadu memungkinkan agar pembelajaran bidang studi tidak harus secara terpisah. Kesembilan, pembelajaran terpadu memungkinkan adanya hubungan antara sekolah dan keluarga.
         Pada pendekatan konstruktivisme, individu membentuk sendiri pengetahuan yang dipelajarinya. Menurut Von Glaserfeld, pengetahuan bukanlah suatu barang yang dapat dipindahkan dari pikiran seseorang yang sudah mempunyai pengetahuan (dalam hal ini adalah guru) kepada pikiran orang yang belum memiliki pengetahuan itu (siswa). Siswalah yang menginterprestasikan serta mengonstruksikan pemindahan pengetahuan tersebut berdasarkan pengalaman yang mereka miliki masing – masing. Konstruktivisme dibedakan atas 3 level yaitu: konstruktivisme radikal, realisme hipotesis, dan konstrutivisme yang biasa (jika dikaitkan dengan hubungan antara dan kenyataan). Selain itu, pandangan konstruktivisme juga menghendaki guru untuk menerapkan pendekatan mengajar yang berpusat pada siswa (student – centered approach). Beberapa hal yang diperlukan menyokong pendekatan berorientasi pada anak/siswa. Pertama, orientasi mengajar tidak hanya untuk pencapaian prestasi akademik. Kedua, topik – topik yang dipelajari dapat berdasarkan pengalaman anak yang relevan. Ketiga, metodemengajar harus berorientasi pada anak dengan sifat yang menyenangkan. Keempat, kesempatan anak untuk bermain dan bekerja sama dengan orang lain mendapat prioritas. Kelima, bahan pembelajaran dapat diambil dari bahan yang konkret. Keenam, penilaian tidak hanya terbatas pada aspek kognitif semata. Ketujuh, keenam hal terdahulu membawa implikasi bagi guru yang harus menampilkan diri sebagai guru dalam proses pembelajaran, dan bukan hanya sekadar mentransformasikan pengetahuan kepada siswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar