Jumat, 11 Januari 2013

PRINSIP – PRINSIP PENDIDIKAN DI SD


PRINSIP – PRINSIP PENDIDIKAN DI SD

 1. Salah satu titik lemah budaya pendidikan di sekolah kita selama ini bahwa titik sentral
     pendidikan  adalah bukan siswa , melainkan guru , bahkan selama 32 tahun titik
     sentralnya adalah pemerintah dengan berbagai aturan . Titik lemah ini secara
     konsepsional dapat diubah bilamana  perkembangan siswa dijadikan sebagai tujuan
     pembelajaran .
 2. Proses pembelajaran di SD harus bersifat terpadu dengan perkembangan siswa , baik
     perkembangan fisik , kognitif , sosial, moral maupun emosional .
 3. Dari aspek keterpaduan perkembangan dan belajar , ada dua prinsip pendidikan ,
     yaitu : (a) guru sekolah dasar harus selalu peduli dan memahami anak sebagai
     keseluruhan ; dan (b) kurikulum dan proses pembelajaran di SD harus bersifat terpadu.
 4. Aspek keterpaduan di atas meliputi tiga sub – aspek yaitu :  (a)  aspek perkembangan
     fisik , (b)  aspek perkembangan kognitif , dan (c) aspek perkembangan sosio –
     emosional dan moral . Setiap aspek itu memiliki prinsip oprasional yang tersendiri .    

TUJUAN DAN FUNGSI PENDIDIKAN SD


TUJUAN DAN FUNGSI PENDIDIKAN SD

 1. Tujuan pendidikan merupakan gambaran kondisi akhir atau nilai – nilai yang ingin di
     capai dari suatu proses pendidikan . Setiap tujuan pendidikan memiliki dua fungsi ,
     yaitu (a) menggambarkan tentang kondisi akhir yang ingin dicapai, dan (b)
     memberikan arah dan cara bagi semua usaha atau proses yang dilakukan .
 2. Tujuan pendidikan SD harus selalu mengacu pada tujuan pendidikan nasional dan
     tujuan pendidikan dasar serta memperhatikan tahap dan karakteristik perkembangan
     siswa, kesesuaiannya dengan lingkungan dan kebutuhan pembangunan daerah , arah
     pembangunan nasional serta memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dan
     teknologi dan kehidupan umat manusia secara global.
 3. Tujuan pendidikan di SD mencakup pembentukan dasar kepribadian siswa sebagai
      manusia  Indonesia seutuhnya sesuai dengan tingkat perkembangan dirinya .
 4. Secara oprasional pendidikan SD , dinyatakan di dalam Kurikulum Pendidikan Dasar,
     yaitu memberi bekal kemampuan dasar membaca , menulis dan berhitung ,
     pengetahuan dan keterampilan dasaar yang bermanfaat bagi siswa sesuai dengan
     tingkat perkembangannya , serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan
     di SLTP.
 5. Fungsi yang sangat mendasar dan menonjol dari pendidikan SD  adalah fungsi -
     edukatif , daripada fungsi pengajaran , di mana upaya bimbingan dan pembelajaran
     di orientasikan pada pembentukan landasan kepribadian yang kuat .
 6. Dari sudut perkembangan individu , fungsi tersebut sangat sesuai dengan tingkat dan
     karakteristik perkembangan siswa SD. Fungsi ini diwujudkan dengan modeling,
     yaitu memberikan contoh konkret dan keteladanan prilaku yang etis, normatif dan
     bertanggung jawab dalam setiap berinteraksi dengan siswa .
 7. Fungsi pengembangan dan peningkatan merupakan penjabaran dari fungsi edukatif
     yang harus dilaksanakan secara sistematis dan berkesinambungan melalui kegiatan
     bimbingan dan konseling . 

DEFINISI PENDIDIKAN


DEFINISI  PENDIDIKAN 

 1. Walaupun definisi pendidikan yang dikemukakan para ahli sangat beragam , namun
     untuk keperluan aplikasi , Anda tetap perlu memiliki pegangan tertentu yang cukup
     mantap. Salah satu pandangan yang tetap mantap tentang pendidikan hingga sekarang
     adalah pandangan perkembangan .
 2. Oleh karena setiap pendidik (guru) selalu berhadapan dengan individu yang tengah
     berkembang maka pendidikan dapat dipandang sebagai proses membantu peserta
     didik untuk mencapai tingkat perkembangan yang optimal dalam seluruh aspek
     kepribadiannya sesuai dengan potensi yang dimiliki dan sistem nilai yang berlaku
     di lingkungan sosial – budaya di mana dia hidup.
 3. Pendidikan bukanlah proses memaksakan kehendak orang dewasa ( guru ) kepada
     peserta didik , melainkan upaya menciptakan kondisi yang kondusif bagi optimalisasi
     perkembangan anak.
 4. Pendidikan di SD dapat didefinisikan sebagai proses pengembangan kemampuan
     yang paling mendasar setiap siswa , di mana tiap siswa belajar secara aktif karena
     adanya dorongan dalam diri dan adanya suasana yang memberikan kemudahan
     ( kondusif ) bagi perkembangan dirinya secara optimal .
 5. Pendidikan di SD bukan hanya diorientasikan pada memberi bekal kemampuan
     membaca , menulis dan berhitung , melainkan pada penyiapan intelektual, sosial , dan
     personal siswa secara optimal  untuk belajar secara aktif  mengembangkan dirinya
     sebagai pribadi , sebagai anggota masarakat , sebagai warga negara , dan  sebagai
     makhluk  Tuhan  Yang  Maha  Esa.

PENDEKATAN PEMBELAJARAN HOLISTIK DAN KONSTRUKTIVISME


PENDEKATAN PEMBELAJARAN HOLISTIK DAN KONSTRUKTIVISME

         Peran guru dakam proses membelajarkan siswa semakin penting karena di masa depan guru tidak lagi merupakan sumber informasi atau penyampaian pengetahuan kepada siswa melainkan lebih merupakan fasilitator yang mempermudah siswa belajar. Cara – cara mengajar konvensional, sudah selayaknya untuk diperbarui dan dikembangkan. Di sinilah pentingnya pemahaman guru terhadap berbagai pendekatan dalam pembelajaran.
         Dalam pendekatan holistik atau terpadu, suatu objek akan terlihat maknanya apabila diamati secara menyeluruh, bukan terpisah – pisah. Pendekatan ini merupakan aplikasi teori dari psikologi Gestalt. Dalam pendekatan pembelajaran, aplikasi teori Gestalt dapat dilihat, seperti berikut.
1. Pengalaman  insight.
2. Ppembelajaran yang bermakna.
3. Prilaku bertujuan.
4. Prinsip ruang hidup.
5. Transfer dalam pembelajaran.
         Selanjutnya, untuk dapat memperlihatkan proses belajar sebagai proses yang terpadu, ada 9 hal yang perlu diperhatikan. Pertama, pembelajaran berfungsi secara penuh untuk membantu perkembangan individu seutuhnya. Kedua, pembelajaran merupakan aktivitas belajar siswa untuk memperoleh pengalaman yang menempatkan siswa sebagai pusat. Ketiga, pembelajaran diarahkan untuk memberikan ruang gerak siswa secara aktif dan intensif. Keempat, pembelajaran harus menjamin setiap siswa pada posisi yang baik dalam suasana kebersamaan untuk menyelesaikan proses yang dihadapi. Kelima, pembelajaran sebagai prosesterpadu mendorong siswa untuk terus – menerus belajar. Keenam, belajar secara terpadu memberikan kemungkinan yang luas agar siswa belajar dengan irama dan gayanya masing – masing, tentunya dengan standard – standard yang ditetapkan sendiri – sendiri. Ketujuh, pembelajaran secara terpadu dapat  berfungsi dan berperan secara efektif yang menciptakan lingkungan belajar yang melihat berbagai aspek. Kedelapan, pembelajaran terpadu memungkinkan agar pembelajaran bidang studi tidak harus secara terpisah. Kesembilan, pembelajaran terpadu memungkinkan adanya hubungan antara sekolah dan keluarga.
         Pada pendekatan konstruktivisme, individu membentuk sendiri pengetahuan yang dipelajarinya. Menurut Von Glaserfeld, pengetahuan bukanlah suatu barang yang dapat dipindahkan dari pikiran seseorang yang sudah mempunyai pengetahuan (dalam hal ini adalah guru) kepada pikiran orang yang belum memiliki pengetahuan itu (siswa). Siswalah yang menginterprestasikan serta mengonstruksikan pemindahan pengetahuan tersebut berdasarkan pengalaman yang mereka miliki masing – masing. Konstruktivisme dibedakan atas 3 level yaitu: konstruktivisme radikal, realisme hipotesis, dan konstrutivisme yang biasa (jika dikaitkan dengan hubungan antara dan kenyataan). Selain itu, pandangan konstruktivisme juga menghendaki guru untuk menerapkan pendekatan mengajar yang berpusat pada siswa (student – centered approach). Beberapa hal yang diperlukan menyokong pendekatan berorientasi pada anak/siswa. Pertama, orientasi mengajar tidak hanya untuk pencapaian prestasi akademik. Kedua, topik – topik yang dipelajari dapat berdasarkan pengalaman anak yang relevan. Ketiga, metodemengajar harus berorientasi pada anak dengan sifat yang menyenangkan. Keempat, kesempatan anak untuk bermain dan bekerja sama dengan orang lain mendapat prioritas. Kelima, bahan pembelajaran dapat diambil dari bahan yang konkret. Keenam, penilaian tidak hanya terbatas pada aspek kognitif semata. Ketujuh, keenam hal terdahulu membawa implikasi bagi guru yang harus menampilkan diri sebagai guru dalam proses pembelajaran, dan bukan hanya sekadar mentransformasikan pengetahuan kepada siswa.

PERAN KECERDASAN INTELEKTUAL DAN KECERDASAN EMOSIONAL PADA ANAK SD


                               PERAN KECERDASAN INTELEKTUAL DAN
                              KECERDASAN EMOSIONAL PADA ANAK SD  

           Keberhasilan hidup manusia tidak hanya ditentukan oleh bagaimana tingkat kecerdasan intelektualnya. Sepandai – pandainya manusia, jika tidak ditunjang dengan sikap dan kepribadian yang memadai juga tidak akan mencerminkan individu yang sehat dan matang. Mengingat begitu banyaknya tantangan yang akan dihadapi anak dalam kehidupannya kelak maka orang tua maupun guru perlu memberikan bimbingan dan pengarahan untuk mencerdaskan kemampuan dan emosinya.
         Melalui struktur intelek dari Guilford, dapat disadari bahwa aktivitas mental manusia, meliputi interaksi dari proses, isi dan produk. Yang masing – masing memiliki unsur – unsur tersendiri karena berdasarkan penggambaran struktur intelek Guilford tersebut akan diperoleh 120 aktivitas mental manusia. Dari penggambaran struktur intelek Guilford ini, orang tua maupun guru diharapkan dapat memberikan rangsangan yang optimal untuk unsur – unsur yang terdapat dalam seluruh aktivitas mental manusia.
         Di samping itu, orang tua dan guru juga berperan besar dalam mengembangkan kemampuan emosinya. Bagaimana hidup dengan emosi yang sehat dan seberapa besar peran emosi yang sehat dalam kehidupan dan keberhasilan pendidikan seorang anak tidaklah diragukan lagi.
         Dalam dunia pendidikan kadang kala dijumpai siswa yang berkemampuan kurang atau siswa yang berkemampun sangat baik. Mereka yang memiliki kecerdasan jauh di bawah atau jauh di atas rata – rata kebanyakan siswa ini dikenal dengan siswa yang memiliki kecerdasan ekstrem. Tampaknya hal ini perlu dikenal dan dipahami oleh guru, khususnya. Guru haruslah memberikan rangsangan yang sesuai dengan yang dibutuhkan anak.